Langsung ke konten utama

KH. SUMARNO JATI SAPUTRO, S.AG. : KETUA PERTAMA PC IPNU SUKOHARJO TAHUN 1969

 

Foto Penulis, KH Sumarno Jati Saputro beserta Rekan-rekanita IPNU IPPNU

Nama KH. Sumarno Jati Saputro, S.Ag. menempati posisi istimewa dalam sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sukoharjo. Dikenal luas sebagai mubalig karismatik pada zamannya, beliau tidak hanya dihormati sebagai tokoh agama, tetapi juga sebagai peletak batu pertama kepemimpinan pelajar NU di daerah tersebut. Sosok bersahaja tersebut berasal dari Mandan, Kecamatan Sukoharjo yang sekarang berdomisili di Kepuh, Kecamatan Nguter ini masih aktif berkhidmat sebagai Mustasyar PCNU Sukoharjo.

LATAR BELAKANG DAN KELUARGA
Lahir di Sukoharjo pada 27 Juni 1943, Mbah Sumarno sapaan akrab beliau merupakan putra dari pasangan Bapak Muhammad Girjo dan Ibu Ngadiyem. Tumbuh bersama empat saudaranya, beliau dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Dalam kehidupan pribadinya, beliau membangun rumah tangga bersama Ibu Sri Widayati dan dikaruniai empat orang anak.

SEMANGAT MENUNTUT ILMU
Perjalanan pendidikan beliau mencerminkan ketekunan yang luar biasa. Pendidikan dasar beliau dimulai di SD Mambaul Ulum pada tahun 1952 hingga kelas 5 (1957), sebelum kemudian menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1958.
Haus akan ilmu agama, beliau melanjutkan studi ke PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama) di Klewer, Solo, selama empat tahun. Tak berhenti di situ, beliau meneruskan ke PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas) di depan Taman Sriwedari selama dua tahun hingga lulus pada 1965. Semangat belajarnya terus menyala hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sempat menempuh pendidikan di UNU Surakarta selama satu tahun, beliau akhirnya melanjutkan pendidikan sarjananya di Sekolah Tinggi Agama Islam Mambaul Ulum Surakarta (STAIMUS) pada tahun 2000.

DEDIKASI TANPA HENTI DI DUNIA PENDIDIKAN
Karier Mbah Sumarno di dunia pendidikan bermula pada tahun 1960. Beliau mengawali pengabdiannya dengan mengajar di Madrasah Menengah Pertama Nahdlatul Ulama (MMP NU) Bendosari yang kini dikenal sebagai MTsN 3 Sukoharjo. Pengalaman mengajarnya terus berkembang, mulai dari MTsN Bekonang, kembali ke MMP NU, hingga mengajar di sekolah umum dan swasta seperti SMP 2 Sukoharjo (1968) dan SMA Muhammadiyah 1 Sukoharjo.
Puncak karier beliau di bidang pendidikan adalah ketika dipercaya menjadi Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI). Dengan wilayah kerja yang berpindah-pindah,  dari Kecamatan Bendosari, Kecamatan Tawangsari, hingga Kecamatan Nguter, beliau menjalankan amanah ini dengan penuh dedikasi hingga masa pensiun tiba.

JEJAK SEJARAH PC IPNU SUKOHARJO
Salah satu warisan terbesar KH. Sumarno Jati Saputro adalah kiprahnya sebagai Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Sukoharjo yang pertama.
Pada periode 1969–1974, beliau ditunjuk langsung oleh Ketua NU Kabupaten Sukoharjo saat itu, Bapak Susilo Sujiwo yang berasal dari Gembongan, Kecamatan Kartasura. Masa-masa awal ini penuh dengan tantangan. Bersama rekan sejawatnya, Mahmudah (Ketua PC IPPNU pertama) yang berasal dari Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kiai Sumarno harus berjuang keras membangun organisasi dari nol. Dengan jumlah pengurus yang sangat terbatas hanya sekitar 10 orang dan belum adanya surat pengesahan resmi, beliau bergerak merekrut anggota di tengah minimnya kesadaran pelajar saat itu.
Namun, kegigihan beliau membuahkan hasil. Meski saat itu kegiatan IPNU dan IPPNU masih membonceng kegiatan induk (NU), nama "Pelajar NU Kabupaten Sukoharjo" mulai berkibar dan menjadi fondasi bagi kemajuan PC IPNU Sukoharjo hingga hari ini.

Foto Penulis, KH Sumarno, istri dan Rekanita Yuni Waka Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren PC IPPNU Sukoharjo

Sumber : Wawancara langsung dalam Rumahnya beliau 

Penulis : Ahmad Ali Khusaini, Ketua PC IPNU Kabupaten Sukoharjo periode 2023 - 2026

Editor : Ahmad Zuhdy Alkhariri, Direktur Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nasional Lembaga CBP (Corps Brigade Pembangunan)

PENGERTIAN Secara etimologi Corps berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti kesatuan dalam komando , Brigade berarti Pasukan yang disiapkan untuk bertempur dan Pembangunan , memiliki arti Membangun dalam rangka mengisi kemerdekaan . Sedangkan secara Terminologi Corps brigade pembangunan berarti suatu lembaga yang dibentuk dalam satu komando untuk mengawal pembangunan . LEMBAGA CBP DARI MASA KE MASA Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan Lembaga Semi Otonom yang secara resmi dibentuk oleh Organisasi IPNU pada tahun 1964 dilatarbelakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Ganyang Malaysia ”, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Republik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak). Suasana Konferensi Besar IPNU & IPPNU di Pekalongan Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Jogjakarta pada tahun 1963 yang pada saat itu merupakan ...

Sejarah Nasional Lembaga KPP (Korp Pelajar Putri)

  LATAR BELAKANG Lahirnya KPP Lembaga Korp Pelajar Putri (L-KPP) merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan keputusan Konbes IPPNU pada tanggal 28 Oktober 1964 di Gedung Bakorwil Jl. Diponegoro, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah .  Pada awal terbentuknya lembaga ini bernama Corp Brigade Pembangunan-Wati (CBP-Wati) yang merupakan wadah bagi pemuda dan pelajar Putri NU untuk mengkokohkan barisan dalam mengimbangi munculnya berbagai barisan yang berkibar dari panji - panji komunis. Pada masa tersebut Rekanita Farida Mawardi yang menjabat sebagai Ketua Umum PP IPPNU (Ketua terpilih pada  Kongres IPPNU ke IV di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah) . LEMBAGA KPP DARI MASA KE MASA Perkembangan CBP-Wati pada masa awal pembentukannya tidak jauh berbeda dengan partner Lembaga nya, CBP. Bersama dalam penempaan Pemusatan Latihan atau TC di Cebongan, Yogyakarta pada tahun 1965. Pasca TC ini juga berperan aktif dalam Penumpasan G-30/S PKI, tetap...

Benarkah Pondok Pesantren Produk Foedalisme?

Beberapa hari yang lalu dikejutkan jagat media sosial narasi vidio pendek dipertontonkan oleh chanel Trans 7 dengan memperlihatkan santri duduk merunduk dan kedua kaki berjalan sejajar merangkak. Serta vidio KH Anwar Mansur membagikan surat yang isinya entah tidak tau sama sekali. Namun dengan mudahnya pihak Trans 7 menarasikan isi amplopnya adalah uang seakan-akan KH Anwar Mansur dibayar. Dan menganggap merangkak adalah bentuk penghinaan dianggap jalannya sengot. Parahnya yang menarasikan cekikan dengan dalih guyonan seakan-akan ini merupakan bentuk kritikan pedas. Padahal yang mereka narasikan jelas bentuk penghinaan semata.  Asal nyamplok ngambil gambar sana-sini pun menjadi pertanyaan dari mana mereka menemukannya tanpa menanyakkannya?. Secara etika jurnalistik ketika seorang jurnalis tidak menghubungi ataupun menemui langsung maksud vidionya langsung sudah merupakan melanggar kode etik jurnalistik. Pasalnya dalam jurnalistik sang jurnalis seharusnya tak memberikan opini secara...