Langsung ke konten utama

Sejarah Nasional Lembaga KPP (Korp Pelajar Putri)

 


LATAR BELAKANG
Lahirnya KPP Lembaga Korp Pelajar Putri (L-KPP) merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan keputusan Konbes IPPNU pada tanggal 28 Oktober 1964 di Gedung Bakorwil Jl. Diponegoro, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah.  Pada awal terbentuknya lembaga ini bernama Corp Brigade Pembangunan-Wati (CBP-Wati) yang merupakan wadah bagi pemuda dan pelajar Putri NU untuk mengkokohkan barisan dalam mengimbangi munculnya berbagai barisan yang berkibar dari panji - panji komunis. Pada masa tersebut Rekanita Farida Mawardi yang menjabat sebagai Ketua Umum PP IPPNU (Ketua terpilih pada Kongres IPPNU ke IV di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah).

LEMBAGA KPP DARI MASA KE MASA
Perkembangan CBP-Wati pada masa awal pembentukannya tidak jauh berbeda dengan partner Lembaga nya, CBP. Bersama dalam penempaan Pemusatan Latihan atau TC di Cebongan, Yogyakarta pada tahun 1965. Pasca TC ini juga berperan aktif dalam Penumpasan G-30/S PKI, tetapi kemudian CBP-Wati mengalami stagnansi dalam perkembangan Lembaga. Secara Teknis pun Komandan CBP-Wati juga belum ada pada masa itu, sehingga pergerakannya pun masih dinilai sebatas pelengkap Organisasi IPPNU disamping IPNU yang mempunyai Lembaga CBP.

Tak sampai disitu, bahkan di masa Orde Baru yang bisa dibilang zaman gencar - gencarnya pemerintah dalam usaha menciptakan stabilitas Politik sehingga peranan NU yang merupakan Organisasi Masyarakat pada masa itu diperkecil. Hal ini juga membuat Banom didalam naungan NU juga mengalami masa yang kurang nyaman. Imbasnya terasa sampai kepada Lembaga CBP dan CBP-Wati yang kemudian dimasukkan dibawah Bidang Pembangunan dan tidak menyandang sebagai Lembaga lagi berdasarkan putusan hasil Konbes IPNU & IPPNU tahun 1968 yang bertempat di Semarang.

Hingga pada Kongres XII IPPNU yang diselenggarakan 23 - 26 Maret 2000 di Maros, Makassar, Sulawesi Selatan, terpilih sebagai Ketua Umum Ratu Dian Hatifah dan kebijakan yang dihasilkan antara lain Mengembalikan IPPNU pada visi kepelajaran, sebagaimana tujuan awal pendiriannya. Sempat muncul isu pengaktifan kembali Lembaga CBP-Wati yang pada akhirnya Blitar dan beberapa Daerah di Jawa Tengah mulai mengaktifkan CBP-Wati. Kemudian pada gelaran Kongres XIII IPPNU di Surabaya pada 19 - 23 Juni 2003, diputuskan Rekanita Siti Soraya Devi sebagai Ketua Umum IPPNU terpilih. Salah satu putusan Kongres juga menghasilkan perubahan nama CBP-Wati menjadi KKP (Korp Kepanduan Putri). Pada masa ini pula Rekanita Siti Soraya Devi menunjuk Rekanita Khusnainik sebagai Komandan Nasional KKP Pertama.

Suasana Sidang Komisi KKP di forum KonBes Medan yang dilakukan di kamar penginapan Asrama

Setelah Kongres dilaksanakan, PP IPPNU kemudian menggelar Rapat Kerja Nasional yang bertempat di TMII Jakarta, tetapi pasca RaKerNas ini belum ada JUKLAK (Petunjuk Pelaksanaan) yang dimiliki oleh KKP. Barulah ketika KonBes di Asrama Haji Mas Mansur Medan, Sumatera Utara pada 18 - 21 Agustus 2005 JUKLAK ini muncul dan disepakati di dalam forum tersebut. Adanya JUKLAK ini tak lepas dari peranan Rekanita yang luar biasa bernama Dewi Ngaisah beserta timnya (Rekanita Nur Kholis dan Rekanita Syifa) yang berasal dari Jawa Timur.

Sampai dengan gelaran Rakornas di Sidoarjo pada tanggal 6 - 7 Oktober 2012 yang salah satu keputusannya merubah nama KKP menjadi Lembaga KPP (Korp Pelajar Putri) hingga sekarang.

LOGO, MARS, DAN ATRIBUT
Pada saat Dewan Koordinasi Nasional Korp Pelajar Putri menggelar seminar sejarah KPP 8 Mei 2021 lalu secara daring, Dewi Ngaisah yang menjadi Narasumber. Beliau bersama timnya yang melengkapi JUKLAK dengan Logo, Mars, dan Atribut beserta dengan Administrasi dan sistem Diklat. Dalam penuturannya beliau sendirilah yang menggambar logo KKP menggunakan  secarik kertas yang digambar manual dengan tangan yang kemudian disempurnakan desainnya di rental komputer pada masa itu. Adapun pengertian dari logo KPP sebagai berikut :
  • Kelopak Bunga Segilima Luar = Rukun Islam
  • Kelopak Bunga Segilima Dalam = Pancasila
  • Garis Merah Tepi = Berani
  • Warna Dasar Hijau = Kesuburan
  • Bintang Berjumlah 9 Berwarna Kuning = Paling besar melambangkan Nabi Muhammad SAW, 2 kiri 2 kanan atas adalah Khulafaur Rasyidin, 2 kiri 2 kanan bawah adalah 4 Madzhab
  • Bola Dunia Berwarna Biru = Perdamaian
  • Buku Terbuka = Belajar tanpa henti

Sajak Mars KKP juga turut melengkapi JUKLAK ini dimana dalam pembuatannya, Dewi Ngaisah dibantu oleh Rekanita PC IPPNU Malang yang pada masa tersebut posisi Ketua Cabang dijabat oleh Rekanita Indah Nafisah beserta Tim. Setelah sajak tersebut selesai, Dewi Ngaisah mempelajari sajak tersebut. Menurutnya yang terpenting di dalam sajak tersebut ada nilai - nilai kebangsaan, kesehatan, dan nilai - nilai Aswaja terkandung didalamnya. Barulah kemudian sajak tersebut di Aransemen oleh KH. Abdul Qodir Hamid, S.H. dan Abdul Ghofur Amin, S.H.

Derap langkah satukan cita
Kembang sayap rengkuh sesama
Bina putri setia
Kuat jiwa sehat raga

Teguh janji wujudkan visi
Bulat tekad raih harapan
Ayun langkah pasti
Gemilang di masa depan

KPP... Korp Pelajar Putri
Kobarkan s'mangat idiologi
Jayalah hai tunas pertiwi
Tuk membangun negri

KPP... Korp Pelajar Putri
Kobarkan s'mangat idiologi
Jayalah hai tunas pertiwi
Tuk membangun negri

Atribut juga tidak luput menjadi pelengkap JUKLAK KKP. Dewi Ngaisah juga turut melengkapinya yang kurang lebih warna dasar yang hampir sama dengan atribut yang dimiliki oleh CBP. Menurutnya, ketika ditinjau dari segi Ekonomis memang sengaja dibuat hampir sama agar tidak menyulitkan dan aturan dapat mudah ditaati ketika diterapkan di Lapangan.

Fun Fact : 
Mars KKP pertamakali dinyanyikan oleh Paduan Suara dari SMA Ma'arif Singosari Malang pada saat dilaksanakan Diklatama DKW Jawa Timur yang berlokasi di Pujon, Malang.

Nama Ketua Umum PP IPPNU dan Komandan Nasional KPP dari Masa Ke Masa :

Farida Mawardi

-

1963 – 1966

Mahsanah Asnawi

-

1966 – 1970

Ratu Ida Mawaddah

-

1970 – 1976

Misnar Ma’ruf

-

1976 – 1981

Titin Asiyah

-

1981 – 1988

Ulfah Masfufah

-

1988 – 1996

Safira Mahrusah

-

1996 – 2000

Ratu Dian Hatifah

-

2000 – 2003

Siti Soraya Devi

Khusnainik

2003 – 2006

Wafa Patria Ummah

Dewi Candra Nur Imamah

2006 – 2009

Margareth Aliyatul Munna

Yusnita Yamus

2010 – 2012

Farida Farichah

Novi

2012 – 2015

Putri Hasni

Miftahul Jannah

2015 – 2018

Nurul Hidayatul Ummah

Siti Mukhodiah Hasyim

2019 – 2022

Whasfi Velasufah

Desi Panca Wardani

2022 – Petahana


Penulis :
Ahmad Zuhdi Alkhariri (Koordinator Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kab. Sukoharjo 2023)
Ahmad Fauzi Bahroni (Komandan DKC CBP Kab. Sukoharjo 2023)

Sumber : 





Caswiyono Rusydie dkk, KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta, Pustaka Pesantren), 2009.

DKW CBP KPP Jawa Timur, Jejak Waktu Perjalanan CBP KPP Jawa Timur Pasukan Khusus Nahdlatul Ulama Since 1964, (Sidoarjo, Kantor PCNU Sidoarjo), 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nasional Lembaga CBP (Corps Brigade Pembangunan)

PENGERTIAN Secara etimologi Corps berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti kesatuan dalam komando , Brigade berarti Pasukan yang disiapkan untuk bertempur dan Pembangunan , memiliki arti Membangun dalam rangka mengisi kemerdekaan . Sedangkan secara Terminologi Corps brigade pembangunan berarti suatu lembaga yang dibentuk dalam satu komando untuk mengawal pembangunan . LEMBAGA CBP DARI MASA KE MASA Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan Lembaga Semi Otonom yang secara resmi dibentuk oleh Organisasi IPNU pada tahun 1964 dilatarbelakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Ganyang Malaysia ”, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Republik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak). Suasana Konferensi Besar IPNU & IPPNU di Pekalongan Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Jogjakarta pada tahun 1963 yang pada saat itu merupakan ...

Benarkah Pondok Pesantren Produk Foedalisme?

Beberapa hari yang lalu dikejutkan jagat media sosial narasi vidio pendek dipertontonkan oleh chanel Trans 7 dengan memperlihatkan santri duduk merunduk dan kedua kaki berjalan sejajar merangkak. Serta vidio KH Anwar Mansur membagikan surat yang isinya entah tidak tau sama sekali. Namun dengan mudahnya pihak Trans 7 menarasikan isi amplopnya adalah uang seakan-akan KH Anwar Mansur dibayar. Dan menganggap merangkak adalah bentuk penghinaan dianggap jalannya sengot. Parahnya yang menarasikan cekikan dengan dalih guyonan seakan-akan ini merupakan bentuk kritikan pedas. Padahal yang mereka narasikan jelas bentuk penghinaan semata.  Asal nyamplok ngambil gambar sana-sini pun menjadi pertanyaan dari mana mereka menemukannya tanpa menanyakkannya?. Secara etika jurnalistik ketika seorang jurnalis tidak menghubungi ataupun menemui langsung maksud vidionya langsung sudah merupakan melanggar kode etik jurnalistik. Pasalnya dalam jurnalistik sang jurnalis seharusnya tak memberikan opini secara...