Paris Saint German atau PSG melawan Interminal diadakan di Munchen, Jerman pada Ahad (31/05/25). Pertandingan ini sangat mengejutkan lantaran Intermilan kalah dengan score 5-0 yang sebenarnya diunggulkan. Diatas rata-rata Intermilan menjadi favorit juara dilihat dengan skuad berpengalaman. Walaupun begitu PSG bermain tanpa beban justru menjadi pukulan telak yang terlupakan sepanjang sejarah. Sekaligus Quadrupel pertama dibawah asuhan Luis Inrique setelah memenangkan liga dan dua piala domestik Perancis.
PSG rata-rata pemain berumur 20-an sebagian besar adalah warga Gen Z. Sementara Inter squad yang materi matang usia beberapa 30-an. Ini menunjukkan bahwa PSG tidak mau kalah dengan Inter dikenal skuad mengerikan dibawah asuhan Simoene Inzaghi. Babak pertama intenitas tinggi permainan membuahkan hasil unggul 2-0 lewat Gol Hakimi dan Darke. Pertandingan jelas menjadi laga emosional Hakimi karena ia adalah mantan pemain Inter. Sistem diterapkan babak pertama ini merupakan man to man pemain untuk tidak memberikan celah bagi pemain Inter.
Di babak kedua PSG menjauh 3 gol berkelas masing-masing dicetak Daoue, Kvara, miu. Hasil membawa PSG meraih Juara Liga Champion pertama kalinya dalam sejarah. Permainan ini sangat spektakuler mengingat PSG menurunkan skuad pemain mudanya guna untuk jangka panjang. Walaupun Inter harus mengakui kekalahannya, Namun ada pelajar penting bagi Interminal. Yakni jangan terlalu meremehkan lawan yang sebenarnya kita tidak tahu ketika dipertandingkan.
Kehilangan Motivasi
Anak asuhan Inzaghi kehilang motivasi bermain. Ini menandakkan bahwa mental bermain perlu diubah kembali mengingat final bukan hanya untuk pemanasan. Namun bagaimana sebuah tim bisa menciptakan momen krusial dengan baik. Sangat pukulan telak bagi Inter kehilangan dua gelar prestisus Liga dan Supercopa. Terkadang dalam pertandingan krusial seperti ini dibutuhkan mental juara yang perlu ditanamkan. Karena sepakbola tidak bisa ditebak seperti matematika. Tim-tim kecil bisa sangat mengejutkan setiap pertandingan.
Sekaligus pelajaran penting bagi kita bahwa mentalitas dalam bermain apalagi final adalah momen dimana kita harus berjuang mati-matian. Demi menemukan kembali gairah bertanding siap melawan musuh. Bisa jadi kita kalah dengan lawan yang tidak diunggulkan sama sekali. Dan kita harus Respeck atas capaian Inzaghi selama ini.
Sumber : Siarang Langsung SCTV dan beberapa You Tube Justinus Laksama, DPI.
Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo

Komentar
Posting Komentar