Langsung ke konten utama

Jejak Ki Ageng Purwoto Sidiq Banyu Biru Weru : Murid Kanjeng Sunan Kalijaga

 

Foto Penulis bersama PAC IPNU IPPNU Kecamatan Sukoharjo 2021

Sukoharjo telah melahirkan waliyulloh berdarah keraton Surakarta yang merupakan salah aspek pengaruh terbesar dalam sejarah kerajaan terbesar Indonesia maupun luar Indonesia. Hal itu juga terlepas dari peran serta beberapa murid waliyulloh terkenal hingga pelosok daerah. Karena kita ketahui, hampir sebagian warga Sukoharjo menghiraukan tokoh yang membawa perubahan besar di daerahnya. Sebut saja Pangeran Sumedang, Mbah Sayyidiman, Majasto, Malik Ibrahim, dan napak tilas Joko Tingkir sekalipun yang justru kebanyakkan adalah salah satu keturunan Kerajaan Surakarta.

Salah satu tokoh berperan besar dalam membangun kejayaan Islam dan kuatnya pengaruh keraton Surakarta adalah Kie Ageng Purwoto atau masyarat Weru menyebutnya banyu biru. Makamnya terletak di kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Kalau kalian kesana pasti akan kaget dengan kondisi makam tersebut. Sebab, makamnya masuk kedalam rumah warga yang depannya dikelilingi suket layaknya lapangan sepak bola. Dan bangunannya pun sudah seperti tak layak untuk dikunjungi dan terkesan seperti rumah jaman dahulu.

Namun makam tersebut adalah bekas dari langgar untuk kajian-kajian dan ritual keraton Surakarta dalam mendakwahkan keislaman dalam upaya mempertahankan diri dari penjajah Belanda ( wawancara Pak Widodo, Juru Kunci). Sehingga daerahnya selalu didatangi oleh sebagian masyarakat luar Weru, termasuk dari luar Indonesia ( Pak Widodo, Juru kunci). Oleh sebab itu, Banyu Biru dikenal luas oleh warga sekitar berkat jasa dan perjuangannya dalam mendakwahkan islam yang kental dengan kearifan lokal.

Weru juga salah satu bekas kekuasaan kerajaan Surakarta dalam merebut kemerdekaannya di tangan kekejaman pasukan Belanda. Karena itulah, Banyu Biru memilih Weru sebagai langkah dakwahnya dalam memajukkan keislaman serta menjaga tradisi keraton Surakarta dengan aneka budaya. Di balik itu semua Banyu Biru juga tentunya dibarengi beberapa tokoh yang berpengaruh membawannya terus mensyiarkan ajaran Nabi Muhammad saw yakni kanjeng Sunan Kalijaga. Berikut adalah ulasan penulis hasil wawancara Pak Widodo mengenai peran Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Banyu Biru

 Murid Kanjeng Sunan Kalijaga

Kita tahu bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga merupakan tokoh walisongo berperan penting dalam dakwah islam yang mampu mengambungkan antara budaya dan agama sesuai kebiasaan masyarakat sekitar. Murinya pun juga tersebar penjuru Indonesia yang tak henti-hentinya memberikan dakwah keislaman dengan pendekatan masyarakat masih awam tentang agama islam. Hingga memunculkan regenerasi yang cinta dengan ragam budaya nenek luhur yang membawa kedamaiannya dengan pendekatan secara humanis.

Murid yang penulis maksud tak lain tak bukan Banyu Biru yang sudah dijelaskan di atas. dibawah bimbingan Kanjeng Sunan Kalijaga, Banyu Biru telah melakukan beberapa perintahnya yang kelak akan dikenang oleh penduduk sekitar yaitu berkhalwat atau berdiam diri di Rawapening selama 7 tahun lamannya ( wawancara Pak Widodo, Juru Kunci Makam). Yang membuat penulis takjub bukan karena kesungguhannya berdiam diri, melainkan berubahnya danau Rawapening menjadi biru yang kelak mendapat julukan Banyu Biru atau nama aslinya Ki Ageng Purwoto.

Heranya lagi daerah Rawapening bukan terletak Kecamatan Weru, malahan di daerah Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang yang letaknya jauh dari makamnya. Apalagi Masyarakat Rawapening mempunyai kearifan lokal yang mempengaruhi pola kehidupan masyarakat sampai saat ini ( Setyono, 2014). Maka bisa dipastikan tempat yang disingahi oleh Ki Agenng Purwoto adalah tempat kepercayaan Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai langkah untuk membersihkan niat guna meluaskan ajaran Islam dari turun temurun. Selain itu, ada beberapa menariknya hasil penelitian penulis untuk menyelusuri rekam jejak Ki Ageng Puwoto dibawah ini, mohon simak baik-baik.

Pertemuannya Dengan Saudaranya Bernama  Joko Tingkir

Selain kita sudah membahas tentang perjalanan spiritual bersama Kanjeng Sunan Kalijaga, kali penulis akan membahas fakta menarik tentang Ki Ageng Purwoto pertemuannya kepada saudaranya bernama Joko Tingkir yang merupakan keturunan yang kelak menjadi pangeran Sultan Demak ke-5. Pertemuannya terjadi setelah Ki Ageng Puwoto pada pembangunan Langgarnya yang saat ini berubah menjadi makam.

Adapun pertemuannya terkait lokasinya antara lain : Pesan untuk mengabarkan penyerangan penjajah Belanda daerah Weru, Pesan Penting untuk Kerajaan Keraton Surakarta bersifat rahasia, dan pesan penting mengenai perluasan wilayah Kerajaan Keraton meluas di Kabupaten Sukoharjo ( Pak Widodo, Juru Kunci Makam). Tentu yang disampaikan juga terkait kemajuan islam dan masa kerajaan Keraton hingga masa ke masa.

Menurut Pak Widodo pertemuannya juga sekaligus menyambung silaturahmi antar sesama keturunan Kerajaan Keraton Mataram. Dan juga pertemuannya hanya khusus dihadari keluarga keraton guna memperluas daerah yang dikuasai oleh penjajahan Belanda. Karena daerah Weru juga punya mata pencarian berupa rempah seperti lakatak yang cita rasa khas masyarakat Weru.

Kesimpulan

Pembahas di atas yang telah dijelaskan oleh penulis kita bisa tahu bahwa sebenarnya waliyulloh sudah lebih dahulu menyelusuri daerah yang justru jarang diketahui masyarakat Sukoharjo tentang sejarah, dan ajaran Islam yang melegenda. Sudah seharusnya kita sebagai kaum milenial mampu mempelajari pengetahuan sejarah terutama berkaitan Kerajaan Keraton Mataram. Kelihatannya hanya semacam pengetahuan saja, tapi dibalik itu semua sejarah yang kita tidak banyak ketahui bersama. Terlebih dari peran Kanjeng Sunan kalijagalah yang memilki daya pikat kuat tentang ruhani,jasmani dan agama menjadi titik point dalam perkembangannya.

Dan sudah seharusnya sebagai warga Sukoharjo tidak lupa dan berusaha melupakannya hanya karena dianggap masyarakat kejawen merusak tatanan masyakarat modern. Karena kalau kita melupakannya berarti kita telah berkhianat dengan negara ini. Negara yang penuh oleh para pejuang dan lahir ‘ulama besar seperti halnya Ki Ageng Purwoto. Semoga dakwahnya memberi manfaat serta kebarokahan luar biasa atas jasa dan perjuangannya selama ini bagi kita semua. Amin

Tulisan ini belum pernah dimuat sama sekali dan masih tersimpan rapi sejak 2021 oleh penulis

Ahmad Zuhdy Alkhariri

Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Nasional Lembaga CBP (Corps Brigade Pembangunan)

PENGERTIAN Secara etimologi Corps berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti kesatuan dalam komando , Brigade berarti Pasukan yang disiapkan untuk bertempur dan Pembangunan , memiliki arti Membangun dalam rangka mengisi kemerdekaan . Sedangkan secara Terminologi Corps brigade pembangunan berarti suatu lembaga yang dibentuk dalam satu komando untuk mengawal pembangunan . LEMBAGA CBP DARI MASA KE MASA Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan Lembaga Semi Otonom yang secara resmi dibentuk oleh Organisasi IPNU pada tahun 1964 dilatarbelakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Ganyang Malaysia ”, peristiwa politik tersebut yang berkaitan dengan persengketaan antara Republik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak). Suasana Konferensi Besar IPNU & IPPNU di Pekalongan Deklarasi dibentuknya sukarelawan Pelajar diadakan di Jogjakarta pada tahun 1963 yang pada saat itu merupakan ...

Sejarah Nasional Lembaga KPP (Korp Pelajar Putri)

  LATAR BELAKANG Lahirnya KPP Lembaga Korp Pelajar Putri (L-KPP) merupakan lembaga yang dibentuk berdasarkan keputusan Konbes IPPNU pada tanggal 28 Oktober 1964 di Gedung Bakorwil Jl. Diponegoro, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, Jawa Tengah .  Pada awal terbentuknya lembaga ini bernama Corp Brigade Pembangunan-Wati (CBP-Wati) yang merupakan wadah bagi pemuda dan pelajar Putri NU untuk mengkokohkan barisan dalam mengimbangi munculnya berbagai barisan yang berkibar dari panji - panji komunis. Pada masa tersebut Rekanita Farida Mawardi yang menjabat sebagai Ketua Umum PP IPPNU (Ketua terpilih pada  Kongres IPPNU ke IV di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah) . LEMBAGA KPP DARI MASA KE MASA Perkembangan CBP-Wati pada masa awal pembentukannya tidak jauh berbeda dengan partner Lembaga nya, CBP. Bersama dalam penempaan Pemusatan Latihan atau TC di Cebongan, Yogyakarta pada tahun 1965. Pasca TC ini juga berperan aktif dalam Penumpasan G-30/S PKI, tetap...

Benarkah Pondok Pesantren Produk Foedalisme?

Beberapa hari yang lalu dikejutkan jagat media sosial narasi vidio pendek dipertontonkan oleh chanel Trans 7 dengan memperlihatkan santri duduk merunduk dan kedua kaki berjalan sejajar merangkak. Serta vidio KH Anwar Mansur membagikan surat yang isinya entah tidak tau sama sekali. Namun dengan mudahnya pihak Trans 7 menarasikan isi amplopnya adalah uang seakan-akan KH Anwar Mansur dibayar. Dan menganggap merangkak adalah bentuk penghinaan dianggap jalannya sengot. Parahnya yang menarasikan cekikan dengan dalih guyonan seakan-akan ini merupakan bentuk kritikan pedas. Padahal yang mereka narasikan jelas bentuk penghinaan semata.  Asal nyamplok ngambil gambar sana-sini pun menjadi pertanyaan dari mana mereka menemukannya tanpa menanyakkannya?. Secara etika jurnalistik ketika seorang jurnalis tidak menghubungi ataupun menemui langsung maksud vidionya langsung sudah merupakan melanggar kode etik jurnalistik. Pasalnya dalam jurnalistik sang jurnalis seharusnya tak memberikan opini secara...