Rasa kefanatikkan kita sebagai kader NU (Nahdlatul Ulama) pasti masih melekat dalam hati yang selalu mengunggulkan prinsip komitmen intelektual dalam catatan Aswaja. Kehausan jabatan hingga menjelma menjadi kader militan pun selalu digaungkan dan diteriakkan seolah kita adalah bagian dari keluarga Nahdliyin. Namun kita lupa akan nilai aswaja yang selama ini dijumpai pada kegiatan pengkaderan. Di dalam badan otonom IPNU IPPNU misalnya: Makesta, Lakmud, Ansor, PKD (Pelatihan Kader Dasar), dan lain sebagainya.
Bahkan kita juga tak segan membuat program kajian Aswaja karangannya K.H Ali Ma’sum Krapyak. Karena itulah alasan mengapa kita membuat program kajian tersebut. Kekurangan sosok yang dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah utamanya. Ada poin penting yang harus diperhatikan dalam membangun budaya Tassamuh dalam Mabadi Khoiru Ummah Aswaja, yakni yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10:
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itulah damaikanlah kedua saudaramu, dan takutlah kepada Allah swt supaya kamu mendapat Rahmat”.
Dalam konteks ini, sebaiknya mari kita memulai pelan-pelan budaya tasamuh dalam kehidupan sehari-hari. Minimal di lingkungan masyarakat sekitar kita bisa menggunakan tata krama sopan santun seperti “Monggo mas, monggo mbak” dan lainnya.
Penulis: Ahmad Zuhdy Alkhariri ( Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kabupaten Sukoharjo)
Sumber : https://mediasantrinu.com/perkuat-tassamuh-dalam-mabadi-khoiru-ummah-aswaja/

Komentar
Posting Komentar