Makesta kita diajarkan
banyak mengenai ilmu dan pengetahuan yang sangat menguras tenaga serta pikiran
mulai Aswaja, NU, Menejement Organisasi, Sejarah IPNU dan IPPNU, Keindonesiaan,
kepemimpinan, Tradisi perilaku keagamaan secara dasar sesuai kapasitas kader.
Baru kemudian di Lakmud tingkatan dasar naik menjadi menengah dan ditambahi
materi analisis gender, kebangsaan, networking dan lobbying dan
analisis sosial hingga akhir pengkaderan. Namun terkadang kita lupa bahwa
materi bisa memberikan keberkahan luar biasa terhadap dampak kader IPNU IPPNU.
Yakni peran luar biasa sosok bapak IPNU IPPNU Kiai Tolchah Mansoer dan Nyai
Umroh Machfudzoh. Keduannya sering kita kaji dalam konteks Sejarah dan
spiritualisme.
Sayangnya kita belum
menyatu pada esensi perjuangan dua tokoh tersebut dalam kehidupan kita
sehari-hari. Alhasil yang kita pikirkan adalah kaderisasi tidak pernah selesai
ranah komisariat hingga wilayah ditambah faktor keagamaan sering kita dahulukan
pada saat rapat semisal tahlil singkat, Qiroah, Mujahadah mentok sampai hafal
lantunan arabnya saja. Bahkan seni berbicara saja membutuhkan waktu harus ini
itu pakem dengan acara. Belum sampai tingkatan meresapi setiap prosesnya. Yang
penting selesai habis itu sudah acaranya beres.
Hal inilah kita lupa
apa yang diperjuangkan Kiai Tolchah dan Umroh Machfudzoh merupakan sebagai
wujud terima kasih atas dedikasinya serta loyalitasnya mencapai kesuksesan.
Kiai Tolchah malahan menjadi dosen UNU di Solo yang lupa memperhatikan kualitas
intlektual akademiknya sampai jenjang Professor. Sementara Nyai Umroh juga
pernah mengajar di Universitas Cokro Surakarta. Naluri politik organisasinya
juga pernah menjabat DPR pada waktu itu.
Loyalitas Tanpa Batas untuk NU
Kesibukannya di pekerjaan
mengajarnya di berbagai kampus Kiai Tolchah dan Nyai Umroh tak lupa dari
rumahnya menjadi kehidupan perjalanannya yaitu organisasi. Keduannya juga
sempat konsisten menunjang kaderisasi organisasi. Kiai Tolchah bahkan pernah
menduduki jabatan Rois Syuriah PBNU kala itu memiliki dedikasi penguatan
organisasi setelah sebelumnya pernah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (
HMI). Serta mengantarkannya bekerja BPH ( Badan Harian Pemerinatahn)
Yogyakarta. Ia juga terlibat aktif NU sampai akhir hayatnya.
Istirnya
juga demikian pernah menjadi bagian Wakil Ketua Fatayat Cabang Surakarta ( NU
Online). Tentu ini adalah kemistri luar biasa antara bapak IPNU maupun ibu
IPPNU membangun fondasi kuat terhadap Sejarah organisasi khususnya Nahdlatul
Ulama. Sampai sekarang loyalitas organisasi masih dilakukan oleh aktivis NU
baik jajaran banom hingga kepengurusan besar NU Nasional.
Penulis : Ahmad Zuhdy Alkhariri
Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU
IPPNU Kabupaten Sukoharjo

Komentar
Posting Komentar